1. I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai potensi sumberdaya ikan yang sangat melimpah. Dalam pembangunan sektor perikanan selain sebagai penyokong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat juga membuka lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat serta sebagai sumber devisa negara. Bahkan saat ini dalam kondisi krisis moneter, komoditas perikanan merupakan komoditas ekspor yang memiliki harga jual yang tinggi di pasar.

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai prospek yang cerah dan layak dikembangkan sebagai ikan budidaya laut karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dipasar lokal maupun internasional. Selain itu Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) juga potensial untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya relatif cepat, mudah untuk dipelihara, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan dan dapat dikembangkan di Keramba Jaring Apung (KJA).

Ikan kerapu bebek atau kerapu tikus (Cromileptes altivelis), sejenis ikan karang, berprospek cukup cerah karena kelezatan dagingnya. Permintaan  terus meningkat, baik untuk pasar ekspor maupun lokal. Harga jualpun sangat tinggi, bias mencapai ratusan ribu rupiag per kilogram. Peluang budidaya terbuka luas karena lahan karena lahan usaha budidaya cukup tersedia dan keuntungannya besar.

Dilihat dari prospek pasar ikan kerapu bebek yang merupakan  sebagai salah satu komoditas unggulan, maka usaha kerapu bebek bisa menjadi salah satu pilihan untuk di kembangkan, Ikan kerapu bebek selain untuk konsumsi juga bisa sebagai ikan hias saat ukuran benih atau pendederan (3-7 cm). Bentuk dan warnanya yang menarik yaitu bintik-bintik kebiru-biruan agak kuning terang sehingga enak dilihatnya.

Ikan kerapu bebek merupakan salah satu jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan dan harganya cukup tinggi. Usaha pembesarannya dengan menggunakan keramba jaring apung sudah dikembangkan di masyarakat,  namun konsekuensi dan perkembangan usaha pembesaran ikan kerapu bebek tersebut menuntut ketersediaan benih yang siap di tebar. Benih tersebut harus berkualitas, jumlah cukup dan terus menerus.

Salah satu tempat pendederan kerapu bebek adalah BBPBAP jepara yang telah mengembangkan teknik pendederan ikan kerapu bebek dengan penerapan tenologi pendederan sehingga menghasilkan benih ikan kerapu yang memiliki kualitas baik dan jumlah yang tersedia secara kontinyu.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan Peraktek Kerja Lapangan (PKL) tekhnik pendederan kerapu bebek ini adalah sebagai berikut :

  1. Memperoleh pengetahuan, keterampilan tentang teknologi Pendederan  Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis).
  2. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi pada Pendederan Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) dan cara penanggulangannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi

Gambar 1.  Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes) ))altivelis)

Menurut akbar (2009), Ikan kerapu bebek adalah jenis ikan karang yang hanya hidup dan tumbuh cepat di daerah tropis, Ciri khasnya terletak pada bentuk moncong yang menyerupai bebek sehingga disebut kerapu bebek.

Adapun klasifikasi adalah sebagai berikut :

Phyllum                 :  Chordata

Subphylum            :  Vertebrata

Class                     :  Osteichyes

Subclass               :  Actinopterigi

Ordo                      :  Percomorphi

Subordo                :  Percoidea

Family                   :  Serranidae

Subfamili               :  Epinephihelinae

Genus                   :  Cromileptes

Spesies                 :  Cromileptes altivelis

Menurut akbar (2002)menyebutkan bentuk tubuh bagian punggung meninggi dengan bentuk cembung (Concaver). Ketebalan tubuh sekitar 6,6 – 7,6 cm dari panjang spesifik sedangkan panjang tubuh maksimal sampai 70 cm. Ikan ini tidak mempunyai gigi canine (gigi yang terdapat dalam geraham ikan) lubang hidung hidung besar berbentuk bulan sabit dertical, kulit berwarna terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan dan sirip. Pada kerapu bebek muda, bintik hitamnya lebih besar dan sedikit.

2.2 Penyebaran dan Habitat

. Ikan kerapu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih terkenal dari teluk Persi, Hawai, atau Polinesia dan hampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudera Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Di Indonesia ikan kerapu bebek banyak didapati di daerah perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon dengan salah satu indikator adanya kerapu di daerah berkarang . Kerapu berkembang baik pada terumbu karang hidup maupun mati atau perairan karang berdebu dan tide pools .Dalam siklus hidup, kerapu bebek muda hidup diperairan karang pantai dengan kedalaman 3-5 m dan kerapu dewasa hidup pada kedalaman 40 – 60 m .Parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu pada kisaran suhu 24 – 31°C, salinitas antara 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0 .(Departemen pertanian, Direktorat jenderal perikanan 1999)

Effendi, 2002 menyampaikan bahwa ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. mengatakan fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu bebek sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan umur ikan, indeks matang kelamin dan ukuran tubuh.  Induk kerapu bebek yang ditangkap di alam memiliki ukuran kecil dan pada umumnya berjenis kelamin betina.  Induk ikan akan mengalami pematangan kelamin sepanjang tahun.

2.3 Siklus Reproduksi

Kerapu bebek bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila tumbuh menjadi lebih besar  atau bertambah tua umurnya, fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran. Kerapu matang gonad pada ukuran panjang 38 cm .Umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akan memijah akan bergerombol musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada Bulan Juni – September dan Nopember – Februari terutama pada perairan kepulauan Riau, Karimun, Jawa dan Irian Jaya. Berdasarkan perilaku makannya ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan salah satu sifat buruk dari ikan kerapu adalah sifat kanibal tapi pada kerapu bebek sifat kanibalis tidak seburuk pada kerapu macan dan kerapu lumpur.( Tampubulon dan Mulyadi, 1989)

ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. (Effendi, 2002)

2.4 Teknik Pendederan Kerapu Bebek

Kerapu bebek, ukuran panjang rata-rata 5-6 cm dipelihara dalam bak fiber  kapasitas 2 ton dengan kepadatan 500 ekor/bak, sampai mencapai ukuran 25 – 30 gram.   Pakan yang digunakan adalah pellet komersial dengan penambahan probiotik 1 mg / kg pakan untuk perlakuan (A); 2 mg/kg pakan (B); 3 mg/kg pakan (C) dan kontrol ( tanpa penambahan probiotik)  dengan tanpa ulangan.  Pakan diberikan 3 – 4 kali sehari secara ad libitum (sampai kenyang).  Pakan yang terkonsumsi dicatat setiap harinya untuk mengetahui FCR pada akhir masa pemeliharaan.  Untuk meningkatkan daya tubuh ikan, selama pemeliharaan   diberikan vitamin C dengan dosis 2 gram/kg pakan dan multivitamin 3 gram/kg pakan, seminggu sekali.( Sutrisno E, dkk 2003 ).

2.4.1.Persiapan Bak pendederan

Dalam melakukan persiapan wadah dan air untuk pendederan kerapu ini perlu pengetahuan mengenai kehidupan/biologi ikan kerapu tersebut, khususnya lingkungan yang diperlukan untuk hidup dan kehidupannya. Bak yang digunakan untuk pendederan ikan kerapu ini dapat berupa bak beton, fiberglass, bak kayu dilapisi plastik atau akuarium. Ukuran bak dapat bermacam-macam dan biasanya dapat menentukan kepadatan dan ukuran benih yang akan ditebar. Hal yang harus diperhatikan adalah kemudahan dalam pengaturan aerasi dan pengelolaan air pada bak tersebut. Jadi bak harus dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pengeluaran air. Bak yang digunakan untuk pendederan kerapu ini dapat berbentuk bulat atau empat persegi Panjang ( Aslianti T ,dkk 1989 ).

Salah satu gambaran bentuk bak yang digunakan untuk pendederan kerapu adalah bak beton berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 1,2 m x 4 m x 0,8 m yang dapat diisi air sekitar 2,5-3,5 m3. Pada bak ini dapat ditebar 2500-3500 ekor benih kerapu yang berukuran 1.5–3 cm atau dengan padat tebar sekitar 1 ekor/liter. Pada salah satu sisi panjang bak pendederan ini dilengkapi dengan pipa PVC ¾ inci sebagai saluran aerasi. Pipa saluran aerasi diberi lubang sebanyak 4 buah dengan jarak antar lubang dibuat sama. Selang aerasi yang digunakan berdiameter 1/16 inci, setiap selang aerasi dilengkapi dengan batu aerasi dan pemberat. Jarak batu aerasi dengan dasar bak sebaiknya 5-10 cm. Pada bak beton tersebut dibuatkan saluran pemasukan untuk memasukkan air dari bak tandon, dapat berupa pipa PVC berukuran ¼ inci yang dilengkapi dengan keran. Disamping itu disalah satu sisi bagian yang lain dibuatkan saluran pengeluaran yang terbuat dari bahan pipa PVC dengan diameter 2 inci yang dilengkapi pula dengan keran. Dasar bak dibuat miring 2-3% ke arah pembuangan. Penggunaan bak dari bahann fiberglass umumnya berukuran 2.5 m x 1.2 m x 0.7 m yang dapat diisi air sekitar 2 m3, hanya dapat ditebari benih ikan kerapu sebanyak 2000 ekor per wadah dengan kepadatan dan ukuran benih yang sama. Bak ini juga dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pengeluaran air serta selang aerasi. Sebelum benih ditebar, bak pemeliharaan dan peralatan yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu. Bak pendederan disiram dengan desinfektan berupa larutan kaporit 100-150 ppm pada seluruh sisi bagian dalam bak dan didiamkan selama 24 jam. Penyiraman\ dengan kaporit ini untuk mempermudah pekerjaan membersihkan dasar dan dinding bak dari kotoran yang menempel. Setelah itu bak danperalatan disikat dan dibilas dengan menggunakan air tawar sampai bau kaporit hilang, kemudian dikeringkan selama sehari. Kegiatan pembersihan ini bertujuan pula agar semua organisme yang menempel atau bakteri di dinding bak dan peralatan lainnya mati. Setelah bersih, bak diisi air laut dan diaerasi selama 2 hari sebelum digunakan (Akbar S, Sudaryanto 2002 )

2.4.2. Penyediaan Air

Air laut yang akan digunakan secara fisik, kimiawi maupun biologis harus memenuhi syarat untuk kehidupan ikan kerapu. Air laut dapat diambil dari laut dengan jarak 100-300 m dari garis pantai, tergantung kelayakan kondisi air laut tersebut. Air untuk pendederan kerapu  yang dipompa dari laut sebaiknya disaring terlebih dahulu melewati saringan pasir (sand filter) yang diletakkan pada ujung pipa berdiater 4 inci. Air tersebut kemudian ditampung pada bak penyaringan. Di dalam bak penyaringan (bak filter) ini disusun batu kali, kerikil, arang dan ijuk sehingga air yang melewati saringan ini akan terbebas dari kotoran. Setelah dari bak filter, air dialirkan ke tandon (reservoar) dan siap digunakan sebagai media untuk pendederan ikan. Pada bak tandon ini sebaiknya dilakukan aerasi secara terus menerus, agar oksigen terlarut dalam air dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan ikan dan untuk melepaskan bahan-bahan beracun ( Akbar S, Sudaryanto 2002 )

Gambar 2. Filtar Air bak Pendederan

1. Air bersih; 2. Kerikil besar; 3. Kerikil kecil; 4. Pasir

Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan kepadatan 5.103-104sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir pembusukkan yang ditimbulkanoleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan.Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kalipada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air perlu diganti juga semakin banyak.

Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40% ( Sunyoto, P. dan Mustahal. 2002 )

2.4.3. Pemeliharaan Larva

Sama seperti penanganan telur ikan lainnya, penangan telur ikan kerapu juga sangat penting dilakukan sebelum penebaran telur. Telur yang didapat dari panti benih dimasukkan dalam wadah penetasan telur yang diaerasi. Wadah penetasan telur dapat berupa akuarium atau fiber glass yang berbentuk persegi atau bundar. Sebelum telur dimasukan ke dalam wadah penetasan sebaiknya dilakukan aklimasi suhu dan salinitas ( Syamsul Akbar, dkk 2002 )

Aklimasi sangat penting untuk dilakukan karena telur ikan kerapu sangat sensitif terhadap suhu dan salinitas. Oleh karena itu sebelum kantong plastik dibuka, kontong plastik yang berisi telur di wadah penetasan telur selama 15-30 menit. Indikasi suhu air dalam kantong plastik dan suhu air dalam wadah penetasan adalah terjadi pengembunan dalam kantong plastik yang dengan mudah dapat diamati. Selanjutnya kantong plastic dapat dibuka dan salinitasnya diukur dengan mengunakan refraktometer telur dapat dimasukkan ke dalam wadah penetasan jika salinitas kedua air laut tersebut sama. Dalam memasukkan telur ke wadah penetasan, harus dilakukan dengan hati-hati dan secara perlahan-lahan baik dengan menuangkan langsung atau dengan menggunakan gayung. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi benturan fisik yang menyebabkan telur menjadi rusak. Setelah itu aerasi dipasang, setelah teraduk sempurna telur dihitung dengan cara sampling ( Aslianti T ,dkk 1989 )

Untuk memisahkan telur yang baik dan buruk, telur didiamkan selama 5-10 menit tanpa aerasi. Telur yang baik berwarna transparan dan akan mengapung di permukaan air, sedangkan telur yang buruk akan mengendap di dasar wadah. Telur yang mengendap dibuang melalui penyiponan atau membuka kran yang ada di dasar wadah . Telur yang dibuang ditampung dalam ember yang selanjutnya dihitung jumlahnya dengan cara sampling. Persentasi telur yang buruk dapat dihitung dengan rumus:

Jumlah telur buruk

100%

Total telur

% Telur buruk

Pembuangan telur yang buruk dilakukan agar telur yang buruk tidak merusak media penetasan telur. Selanjutnya telur diaerasi, agar telur teraduk secara sempurna. Pada suhu 29-30oC telur umumnya akan menetas 16-19 jam setelah ovulasi. Penghitungan jumlah larva dapat dilakukan dengan cara sampling larva dan perhitungannya sama seperti pada perhitungan telur. Selanjutnya dari jumlah larva dapat dihitung daya tetas telur dengan rumus:

Jumlah larva

Jumlah telur

Daya tetas telur                                    100%

Setelah semua larva menetas maka aerasi dihentikan untuk memisahkan larva yang baik dan buruk. Sama seperti telur, larva yang baik akan berenang di permukaan sedangkan larva yang buruk akan tetap di dasar wadah. Larva yang buruk, telur yang tidak menetas dan cangkang telur yang ada di dasar disipon dan dibuang. Selanjutnya larva yang menetas ditebar ke bak pemeliharaan larva. Dalam menebar larva dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan dengan menggunakan gayung dengan tujuan agar larva tidak stres. Larva ditebar dengan kepadatan 15-20 ekor/l. Perhitungan persentase telur yang baik dan daya tetas telur sangat penting untuk mengetahui kualitas telur yang didapat. Pada umumnya jika persentasi jumlah telur yang buruk dan daya tetas larva lebih besar dari 40% maka kualitas telur dapat dikatakan buruk ini akan berpengaruh terhadap kondisi larva. Pemeliharaan larva sebaiknya tidak dilanjutkan jika kualitas telur kurang baik. Hal ini dikarenakan akan timbul banyak permasalahan dalam pemeliharaan larva dan kelangsungan hidup larva akan rendah. Kualitas air yang baik bagi pendederan ikan kerapu jika air mempunyai salinitas 28-35 ppt, DO > 4 mg/l, pH 7,5-8,5 serta suhu 27-31 0C ( Aslianti T ,dkk 1989 ).

2.4.4 .Pemberian Pakan

Pakan yang dipersiapkan untuk larva ikan kerapu terdiri dari pakan alami dan pakan buatan : Pakan alami yang dipersiapkan melalui kultur massal secara terpisah seperti Chlorella Sp. ; rotifera (Brachionus plicatilis);  Artemia dan jambret (Mysidaceae).  Sedangkan pakan buatan diberikan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi larva jika pakan alami tidak mencukupi Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari dengan penambahan secara bertahap rotifera sampai kepadatan 5 ~ 10 ekor/ml plytoplankton 105 – 2.105 sel/ml media ( Syamsul Akbar, dkk 2002 )

Umur 9 hari mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 ~ 0,75 ekor/ml media, pakan diberikan sampai larva berumur 25 hari dengan peningkatan kepadatan mencapai 2 ~ 5 ekor/ml media. Umur 17 hari larva dicoba diberi pakan artemia yang telah berumur 1 hari kemudian secara bertahap diubah dari artemia berumur 1 hari ke artemia setengah dewasa dan akhirnya artemia dewasa sampai larva berumur 50 hari. Setelah larva berumur 29 – 31 hari berubah menjadi benih aktif, menyerupai kerapu dewasa. Pada saat ini mulai dicoba pemberian pakan dengan cincangan daging ikan ( Syamsul Akbar , dkk 2002 )

.   Pakan yang digunakan adalah pellet komersial dengan penambahan probiotik 1 mg / kg pakan untuk perlakuan (A); 2 mg/kg pakan (B); 3 mg/kg pakan (C) dan kontrol ( tanpa penambahan probiotik)  dengan tanpa ulangan.  Pakan diberikan 3 – 4 kali sehari secara ad libitum (sampai kenyang).  Pakan yang terkonsumsi dicatat setiap harinya untuk mengetahui FCR pada akhir masa pemeliharaan.  Untuk meningkatkan daya tubuh ikan, selama pemeliharaan   diberikan vitamin C dengan dosis 2 gram/kg pakan dan multivitamin 3 gram/kg pakan, seminggu sekali ( Aslianti T ,dkk 1998 )

Ikan Kerapu bebek merupakan hewan karnivor yaitu jenis ikan pemakan daging sebagaimana jenis kerapu dewasa lainnya yang memakan  ikan-ikan kecil dan krustacea sedangkan untuk benih  memangsa larva  moluska (trokovor), kopepoda, zooplankton, cephalopoda dan rotivera. Sebagai ikan karnivor kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolong air, kebiasaan makan kerapu  malam dan siang hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989)

2.4.5. Pengambilan Contoh Larva

Untuk mengetahui pertumbuhan, setiap 2 minggu sekali dilakukan sampling sebanyak 10 % dari populasi/perlakuan dengan mengukur panjang dan berat ikan.  Sedang sintasan ikan dihitung pada akhir fase pemeliharaan pendederan dan akhir fase penggelondongan saja. Pengukuran terhadap panjang dan berat benih merupakan cara yang paling sederhana untuk mengetahui pertumbuhan benih selama masa pemeliharan. Untuk menyederhanakan sekaligus mengurangi banyaknya penanganan, pemantauan pertumbuhan cukup dilakukan dengan pengukuran panjang individu.  Hal ini karena standar yang umum digunakan di pasaran adalah ukuran panjang benih. Pelaksanaan sampling sebaiknya dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti saat grading atau pengobatan.  Sampling dapat dilakukan setiap dua minggu sekali sebanyak 10 %–20 % dari total biomasa dan sekaligus memperhitungkan prosentase tiap-tiap ukuran yang ada.            ( Sutrisno E, dkk 2003 ).

2.4.6. Pengendalian Penyakit dan Hama Pada Pendederan Kerapu Bebek

Secara umum penanganan penyakit meliputi tindakan diagnosa, pencegahan dan pengobatan.  Diagnosa yang tepat diperlukan dalam setiap rencana pengendalian penyakit, termasuk pengetahuan mengenai daur hidup dan ekologi organisme penyebab penyakit. Diagnosa yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat dan tindakan penanggulangan yang lebih terarah.

Tindakan pencegahan sebenarnya merupakan tujuan utama dalam rencana pengendalian penyakit.  Tindakan ini meliputi  :

-       mempertahankan kualitas air tetap baik

-       mengurangi kemungkinan penanganan yang kasar

-       pemberian pakan yang cukup, baik mutu, ukuran maupun jumlahnya

-       mencegah menyebarnya organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan yang satu ke bak pemeliharaan yang lain.

Pengobatan sebaiknya merupakan usaha akhir jika tindakan pencegahan tidak memberikan hasil yang memuaskan. Efek samping dari pemberian obat-obatan kadang malah menimbulkan masalah, seperti terjadinya resistensi terhadap ikan dan kemungkinan meninggalkan residu yang tidak diharapkan.

a)    Penyakit Parasiter

Jenis parasit yang sering menyerang ikan kerapu pada tingkat pendederan adalah sejenis kutu ikan golongan crustacea, cacing pipih golongan trematoda, protozoa dan tricodina.

-  Kutu Ikan

Parasit sejenis kutu, bentuknya seperti Argulus yang merupakan golongan Crustacea, banyak menyerang pada pendederan kerapu.   Parasit ini berbentuk pipih seperti kutu, berukuran 2–3 mm, menempel pada permukaan tubuh ikan terutama pada bagian kulit dan sirip. Serangan dalam jumlah besar akan mengakibatkan kematian, karena parasit ini menghisap darah ikan dan mengakibatkan tubuh mangsanya berlubang, sehingga ikan mudah terkena infeksi sekunder yaitu jamur dan bakteri.

Gejala yang diperlihatkan adalah : ikan berenang lamban, nafsu makan menurun, sisik mudah lepas, insang berwarna merah pucat, terdapat luka pada bagian tubuh ikan dan sering menggesek-gesekkan tubuhnya ke sisi jaring/bak atau berenang miring seolah-olah ikan merasa gatal.  Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan parasit ini adalah dengan memisahkan ikan yang terserang dari ikan yang sehat, agar  tidak tertulari.  Sedikitnya dua minggu sekali ikan direndam dalam air tawar selama 10–15 menit.  Pada waktu perendaman, parasit yang menempel akan lepas dan mati. Parasit yang mati akan terlihat jelas yaitu berwarna putih transparan. Pengobatan ikan yang baru terserang parasit ini cukup dengan cara perendaman tersebut. Biasanya ikan sembuh setelah 2–3 hari kemudian. Jika ikan telah mengalami luka-luka dapat dilakukan perendaman dalam air tawar, kemudian dilanjutkan dengan perendaman didalam larutan acriflavin 10 ppm/jam. (Kurniastuty, dkk 2004)

-  Cacing Pipih

Jenis cacing pipih yang biasanya menyerang adalah Diplectanum sp. yang merupakan golongan Trematoda. Gejala yang diperlihatkan adalah : nafsu makan berkurang, warna pucat baik pada tubuh maupun insang, produksi lendir tinggi, ikan berenang di permukaan air serta megap-megap dengan tutup insang terbuka dan sering menggosok-gosokkan tubuh ke bak pemeliharaan. Umumnya serangan parasit ini sering bersamaan dengan penyakit vibriosis. Untuk menanggulangi serangan cacing jenis ini dapat dilakukan perendaman dengan air tawar selama 15 menit kemudian untuk mengantisipasi adanya infeksi sekunder direndam acriflavin 10 ppm selama 1 jam.  Biasanya ikan akan sembuh setelah 4–6 hari perawatan.

-  Protozoa

Jenis protozoa yang biasa menyerang adalah Cryptocarion irritans. Penyakit yang ditimbulkannya disebut Cryptocarioniasis. Gejala yang diperlihatkan    adalah : terdapat bintik putih yang terlihat berbentuk titik yang cukup dalam, terdapat luka yang tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam, pendarahan ini kemungkinan disebabkan karena ikan menggesek-gesekkan tubuhnya ke bak yang diakibatkan oleh rasa gatal dibagian kulit yang terserang. Ikan yang terserang akan kehilangan nafsu makan, mata membengkak, sisik-sisiknya lepas dan kadang terjadi pendarahan pada kulitnya dan terjadi pembusukan pada bagian sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.

Untuk menanggulangi serangan tersebut dapat dilakukan dengan cara perendaman baik menggunakan air tawar selama 15 menit atau methylene blue 0,1 ppm selama 30 menit. Perendaman dapat diulang sebanyak 2–3 kali. Sedangkan terhadap infeksi sekunder seperti pembusukan sirip dapat dicegah dengan menggunakan acriflavin 10 ppm/jam. Tindakan yang perlu dilakukan agar penyakit ini tidak menyebar adalah dengan cara mengisolasi ikan yang sakit sejauh mungkin dari ikan yang sehat. Ikan-ikan yang mati atau sakitnya parah harus segera diambil dan dimusnahkan. Selain itu pengobatan harus dilakukan sedini mungkin begitu terlihat tanda-tanda ada ikan yang sakit.

-  Tricodina

Penyakit yang disebabkan oleh Tricodina sp. disebut tricodiniasis.  Gejala dan penanggulangannya hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh Cryptocarion irritans, tetapi jarang terjadi kerusakan pada kulit.

b)    Penyakit Bakterial

-   Myxobacter sp. dan Pseudomonas sp.

Beberapa jenis bakteri yang menyebabkan penyakit pada ikan pendederan kerapu adalah: Myxobacter sp. dan Pseudomonas sp. Penyakit yang ditimbulkannya disebut

penyakit sirip rontok (Bacterial Fin Rot). Umumnya gejala yang diperlihatkan adalah : adanya kerusakan terutama pada bagian siripnya. Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan perendaman air tawar selama 15 menit atau Nitrofurazon 15 ppm selama 4 jam. Perendaman dilakukan selama 3 hari berturut-turut.

-  Bakteri Vibrio

Bakteri ini biasanya muncul sebagai patogen sekunder yang timbul kemudian akibat infeksi primer oleh protozoa.  Bakteri penyebabnya adalah Vibrio sp. dan penyakitnya disebut Vibriosis. Gejala yang diperlihatkan adalah: nafsu makan kurang, terjadi kelesuan, pembusukan pada sirip (fin rot), mata menonjol (popeye) dan terjadi pengumpulan cairan pada perut (perut kembung). Pengobatan dapat dilakukan melalui makanan, yaitu dengan pemberian 0,5 gr Oxytetracyclin/kg pakan selama 7 hari atau bila ikan tidak mau makan dapat dilakukan perendaman dengan Acriflavin 5–7 ppm selama 1 jam.

c)    Penyakit Viral

Seperti halnya pada larva, penyakit virus juga merupakan penyebab kematian terbesar pada ikan kerapu ukuran pendederan. Kematian terjadi secara tiba-tiba dengan jumlah yang cukup besar hingga mencapai 80 %. Penyakit virus yang pernah ditemukan pada ikan kerapu ukuran pendederan adalah VNNV (Viral Nervous Necrosis Virus).  Gejala yang ditunjukkan adalah : ikan berenang tidak beraturan, berputar-putar seperti spiral, hilang keseimbangan/berenang terbalik, sering menghentakkan kepala ke permukaan air secara sporadik serta hilang nafsu makan.  Seperti halnya pada larva penanggulangan penyakit virus pada ikan pendederan hingga saat ini belum dapat dilakukan.  Untuk mencegah terjadinya kematian yang besar pada ikan adalah dengan cara meningkatkan daya tahan ikan, yaitu melalui pemberian pakan yang berkualitas serta pemberian vitamin dan multivitamin dengan dosis 1 % dari pakan.

2.  Penyakit  Non Patogenik

Seperti halnya pada pemeliharaan larva, faktor non patogenik juga merupakan penyebab timbulnya penyakit pada ikan ukuran pendederan. Faktor non patogenik yang menyebabkan timbulnya penyakit adalah faktor lingkungan dan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya, seperti sindrom gelembung renang. Faktor lingkungan erat kaitannya dengan kualitas air. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas air pada pemeliharaan ikan ukuran pendederan adalah kelimpahan plankton, musim dan pencemaran..

Larva yang sehat sebelum ditebar ke dalam bak sangat penting untuk dilakukan. Di dalam tempat pemeliharaan, seperti KJA, tangki, atau bak jenis ikan ini sering menjadi sasaran berbagai parasit, bakteri, dan virus. Parasit yang paling sering dijumpai adalah Benedenia dan Neobenedenia yang hidup di kulit maupun insang. Serangan parasit ini dapat diatasi dengan cara ikan direndam selama beberapa menit di dalam air tawar. Sementara, itu, jenis bakteri yang sutra menyerang sirip dan kulit kerapu adalah Flexibacter dan Vibrio Penyakit bakteri tersebut dapat diatasi dengan pemberian antibiotik seperti mytetracycline (50 mg) atau oxolinic acid (10-30 mg) per kg bobot badan ikan secara oral.

Adanya kelimpahan plankton di perairan dapat menyebabkan kematian pada ikan, terutama pendederan yang dilakukan di KJA, karena ikan kekurangan oksigen. Kematian ikan terjadi akibat peningkatan jumlah plankton yang besar (blooming plankton) biasanya adalah plankton jenis diatom dan dinoflagellata. Beberapa jenis plankton bahkan dapat mengeluarkan racun yang dapat membahayakan kehidupan ikan. Kesuburan plankton tidak dapat dicegah sejauh faktor-faktor yang mempengaruhi tidak diketahui. Faktor iklim juga dapat menyebabkan penyakit. Pada musim penghujan, saat air hujan turun salinitas perairan mengalami penurunan hingga 29 ppt dan bertepatan dengan hal tersebut temperatur air juga mengalami penurunan. Sampai sejauh ini faktor-faktor tesebut belum dapat diketahui pengaruhnya secara langsung terhadap kesehatan ikan(Kurniastuty, dkk, 2004).

  1. III. PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1. Waktu  Dan Tempat

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mulai dari tanggal 2 November sampai tanggal 21 November 2009 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah.

3.2. Metode Kegiatan

Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan  ini adalah metode magang, yaitu mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jadual kegiatan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Dalam pelaksanaannya dilakukan pengumpulan data primer dan data skunder. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari pengamatan langsung selama praktek dan  hasil wawancara dengan narasumber, dalam hal ini pembimbing ekstern tepatnya pembimbing yang berada di lokasi praktek. Sedangkan data sekunder,yaitu data yang diperoleh dari hasil studi pustaka.

3.3. Materi Kegiatan

Jenis dan sumber data yang akan diambil pada kegiatan praktek pembenihan ikan kerapu bebek di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara .

  • Persiapan bak.
    • Volume bak.
    • Ukuran bak.
    • Bak yang digunakan pada pendederan.
    • Sistem Pipa outleat ( pembungan)
    • Penebaran benih
      • Jumlah benih yang di tebar.
      • Proses pengangkutan benih.
    • Pemberiaan pakan
      • Pakan yang diberikan.
      • Ukuran pakan .
      • Teknik pemberian pakan.
    • Pemberian multivitamin dan obat-obatan
      • Jenis multivitamin yang diberikan.
      • Dosis yang diberikan.
    • Pengolahan kualitas air.
      • Sistem air yang digunakan.
      • Cara menjaga kualitas air.
      • Mengamati parameter air.
    • Menghitung tingkat  kelangsungan hudup.
      • Jumlah survival rate
    • Pengendalian hama dan penyakit.
      • Teknik pengendalian hama dan penyakit.
      • Penyakit yang ditemukan.
      • Cara penanggulangan penyakit tersebut.
    • pengreedingan.
      • Teknik dari Greeding.
      • Ukuran Greeding.
    • Pemanenan benih.
      • Teknik panen.
      • Jumlah panen.
      • Teknik pengangkutan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Lokasi

4.1.1. Sejarah Berdirinya BBPBAP Jepara

Balai Besar Pengembangan Budidaya air Payau (BBPBAP) Jepara dalam perkembangannya sejak didirikan mengalami beberapa kali perubahan status dan hirarki. Pada awal berdiri tahun 1971, lembaga ini diberi nama Research Center Udang (RCU) dan secara hirarki berada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen Pertanian. Pada tahun 1977, RCU diubah namanya menjadi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) yang secara struktural berada dibawah Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Pada periode ini, jenis komoditas yang dikembangkan selain jenis udang juga ikan bersirip, echinodermata dan molusca air. Momentum yang menjadi pendorong bagi perkembangan industri udang secara nasional berawal dari keberhasilan yang diraih BBAP dalam produksi benih udang secara massal, khususnya benih udang windu pada tahun 1978. Pada saat itu diawali dengan diterapkannya teknik pematangan gonad induk udang dengan cara ablasi mata, sehingga salah satu kendala dalam penyediaan induk matang telur sudah dapat teratasi.

Pada tahun 2000 setelah terbentuknya Departemen Eksplorasi Laut dan   Perikanan, keberadaan BBAP masih dibawah DIrektorat Jenderal Perikanan. Akhirnya pada bulan Mei 2001, status BBAP ditingkatkan menjadi Eselon II dengan nama Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dibawah Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan.

4.1.2. Letak Geografis Lokasi PKL

Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara terletak di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Letak geografis BBPBAP Jepara adalah 110° 39′ 11″ BT dan 6° 33′ LS. BBPBAP Jepara memiliki luas lahan 64,5472 ha, dimana 10 ha diperuntukkan untuk kompleks perumahan, asrama, kantor, unit pembenihan, lapangan olah raga, masjid, koperasi dan laboratorium, sedangkan 54,5472 ha digunakan untuk areal pertambakan.

BBPBAP Jepara terletak di kelurahan Bulu dengan batas-batas antara lain sebelah barat dengan Laut Jawa, sebelah selatan dan timur dengan Kelurahan Demaan dan sebelah utara dengan Kelurahan Kauman.

4.1.3. Organisasi dan  Ketenaga Kerjaan

Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 26C/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang organisasi dan tata kerja BBPBAP Jepara yang merupakan unit pelaksana teknis (UPT) berada dibawah dan betangggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Perairan. Didalam struktur organisasi tersebut, terdapat kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perekayasaan, pengujian, dan pembimbingan, penerapan standar teknis alat dan mesin, sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan, penyuluhan hama dan penyakit, pengawasan benih dan kegiatan  lain yang sesuai dengan masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional yang terdapat di BBPBAP Jepara yaitu, jabatan fungsional perekayasaan, jabatan fungsional pustakawan serta jabatan teknisi rekayasa.

4.1.4. Visi dan Misi BBPBAP Jepara

a. Visi :

Memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam pembangunan perikanan.

b. Misi :

1) Memberikan teknologi perikanan.

2) Mengembangankan jasa pelayanan dan sertifikasi.

3) Melestarikan sumber daya ikan

4.2. Sarana dan Prasarana

BBPBAP jepara dalam teknis operasional kegiatan, mempunyai beberapa macam fasilitas, yang terdiri dari fasilitas utama dan fasilitas pendukung. Setiap kegiatan fungsional mempunyai fasilitas yang berbeda – beda.

4.2.1. Fasilitas Utama Pendederan

4.2.1.1. Bak Penampungan Air Laut

Bak penampungan air laut dibangun pada ketinggian sedemikian rupa sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke bak pemeliharaan dan sarana lainnya yang membutuhkan. Bak tendon ini dibedakan atas dua macam yaitu bak penampungan primer dan bak penampungan sekunder. Bak tendon primer berada di atas menara air dengan ukuran 7,5 x 3,5 x 3 m³ dan berkapasitas 78 m³. bak ini berfungsi sebagai penampung sementara sebelum didistribisikan ke bak tandon sekunder.bak ini menampung air yang ditarik dari laut yang berikutnya didistribusikan kesarana pembenihan ( bak induk, bak larva , bak pendederan ). Dibandingkan bak dari bak tandon yang berada di balai lain mungkia BBPBAP jepara mempunyai bak tandon lebih kecil , karna sarana yang membutuhkan air laut pada BBPBAP japara cukup sedikit jadi tidak perlu mengunakan tandon yang berukuran besar, pada BBPBAP jepara air yang di pakai tanpa disaring karna kualitas air yang ada disana cukup baik, bak disini

dibangun bertingkat ini dikarenakan sarana yang memakai air laut pada BBPBAP jepara berada permukaan yang lebih tinggi. Dan sebaiknya pembangunan tandon harus lebih memperhatikan lokasi yang dalam pembangunan tandon agar dalam pemasokan air tidak terkendala.

Gambar 2. Menara Air Sebagai Tandon Primer

Sumber : diolah 2009

4.2.1.2. Bak Pendederan

Bak pendederan terbuat dari bak beton. Bak ini berjumlah 12 buah dengan ukuran  bak yaitu 3 x 3 m , volume efektif bak 2 – 3 ton dengan kedalaman 1 m dan ketinggian air 1 m.

Gambar 3. Bak pendederan kerapu bebek

4.2.1.3. Bak Penampungan Telur

Bak penampungan telur terbuat dari beton, berbentuk segi empat tanpa sudut mati dengan kedalaman 1 m. Bak ini dilengkapi dengan egg collector yaitu berupa hapa yang terbuat dari nilon monofilament dengan ukuran 50 x 50 x 100 cm³ dan  bermata jaring 400 µm.

Gambar 4. Bak penampungn telur dilengkapi dengan egg collector

Pada bak panampungan telur harus memperhatikan beberapa aspek  diantaranya bahan dan ukuran namun demikian harus memenuhi beberapa persyaratan yang diperlukan secara teknis dan kemudahan operasional. Beberapa persyaratan bak penampungan telur adalah : terbuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan air laut atau bahan kimia, pori-pori bak terutama bagian dalam harus halus sehingga mudah pada saat pembersihan, tahan lama serta harga ekonomis.

4.2.1.4. Bak Penetasan dan Bak Pemeliharan Larva

Di BBPBAP Jepara bak penetasan telur dan pemeliharaan larva menjadi satu, terbuat dari beton dan mudah di bersihkan. Bak berbentuk bulat dan berkapasitas air 10 ton.

Dasar bak dibangun permanen untuk mempermudah perawatan, pemantauan larva, pergantian air dan pemanenan benih, serta dilengkapi dengan aerasi. Saluran pemasukan air terdapat di bagian atas menggunakan pipa paralon ukuran 2 inci sebanyak 1 buah. Saluran pengeluaran terdapat di bagian bawah dengan sistem pipa goyang berukuran 4 inci.

4.2.1.5. Bak Kultur Pakan Alami

Bak kultur pakan alami untuk skala masal  terbuat dari beton yang berbentuk persegi panjang tanpa sudut mati, dimana pada bagian sudur pada bak berbentuk setengah lingkaran, berukuran 4 x 2 x 1,25 m³ dengan kapasitas total 10 m³. Bak  berbentuk persegi panjang dengan ukuran 6 m panjang dengan lebar 3 m , bak tersebut berjumlah 4 buah dan ditempatkan diruang terbuka (outdoor).

4.2.1.6. Sistem Aerasi

Fungsi aerasi adalah untuk meningkatkan kandungan oksigen yang larut dalam air dan mempercepat proses penguapan gas-gas beracun seperti H2S dan NH3. Agar kebutuhan oksigen terpenuhi, maka dibutuhkan peralatan seperti blower, pipa distribusi, selang aerasi, dan batu aerasi. Mesin pembangkit yang digunakan BBPBAP Jepara  berjenis root blower bermerek HONG dengan motor penggerak 3 phase induction motor berkekuatan 3 HP; 1440 rpm dan kekuatan listrik 220/380volt, sedangkan 1 buah lagi bermerk PERZEN dengan motor penggerak YUENA berrkekuatan 10 HP. Keempat blower ini beroperasi secara bergantian selama 12 jam sekali dimana setiap 2 unit bekerja pada siang dan malam hari.

Pipa distribusi aerasi berupa pipa paralon PVC yang terdiri dari beberapa ukuran. Pipa distribusi yang berhubungan langsung dengan root blower berdiameter 4 inci yang di lengkapi dengan kran pengatur tekanan udara. Sedangkan, pipa peyalur berdiameter 2 inci dan pipa yang berhubungan langsung dengan selang aerasi berdiameter 1,25 inci untuk bak induk dan 0,75 inci untuk bak pemeliharaan larva  dan kultur pakan alami.

Kekuatan aerasi diatur pada setiap umur larva. Pada larva berusia 0-2 hari aerasi diberikan kuat untuk menghindari larva mengendap di dasar bak. Antara umur 3-35 hari kekuatan aerasi dikurangi sampai pada kekuatan sedang agar larva mampu memangsa rotifer dengan tidak bergerombol di satu tempat. Antara 11-35 hari kekuatan aerasi ditambah sedikit demi sedikit untuk menghindari larva bergerombol dipermukaan air. Setelah larva berumur lebih dari 25 hari dan sudah mulai berenang aktif dan bergerombol, maka aerasi diperkuat agar ketersediaan oksigen dalam air mencukupi kebutuhan larva.

< D 10                                                  > D 10

4.2.2. Fasilitas Pendukung

Fasilitas pendukung yaitu berupa energi. Sumber energi utama di BBPBAP Jepara adalah listrik karena listrik digunakan secara terus menerus selama 24 jam. Sumber listrik yang di gunakan adalah listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara) Cabang Jepara. Listrik merupakan kebutuhan yang sangat pokok dalam kegiatan pembenihan, penggunaannya untuk mengoperasikan pompa air, blower, alat penerangan,dan peralatan lainnya.

Untuk mengatasi matinya aliran listrik  sewaktu-waktu. telah di siapkan 1 buah generator sebagai pembangkit tenaga listrik. Generator ini mempunyai daya 120 kW dan berkekuatan listrik sebesar 400 volt.

4.3. Pendederan Ikan Kerapu Bebek

4.3.1. Persiapan pendederan

Bak pemeliharaan larva di hatchery ikan kerapu bebek BBPBAP Jepara berjumlah 12 buah berbentuk persegi empat terbuat dari beton berukuran 3 x 3 m dengan volume air 1 ton yang ditempatkan diruangan( in door). Sebelum digunakan, bak tersebut didesinfeksi dengan kaporit sebanyak 10 – 20 ppm yang disiram pada  dinding serta dasar bak, kemudian dilakukan penyikatan dan pembilasan. Setelah itu bak di biarkan selama 1 – 2 hari sambil melakukan pengesetan aerasi. Jarak aerasi dari dasar bak yaitu 20 – 25 cm, hal ini agar kororan yang berada di dasar bak tidak naik keatas atau tercampur dengan air yang dapat mengakibatkan kondisi air menjadi buruk. Air yang digunakan harus memenuhi persyaratan diantaranya jernih, steril, bebas dari polutan, dll, sehingga harus mengalami penyaringan. Oleh sebab itu sebelumnya air disaring dengan menggunakan filter bag yang diikatkan pada ujung pipa pemasukan air. Fungsinya adalah untuk menyaring kotoran yang berukuran besar.  Selain itu bak juga dilengkapi sistem pembuangan dimana terdiri dari dua paralon yang ukuranny paralon 2 inci dan ukuran 5 inci , ukuran 2 inci pada bagian dalam dan ukuran 5 inci pada bagian luar, dimana apabila kita mencabut paralon yang 2 inci air akan keluar, dan setelah selesai kita menutupnya lagi, pembuangan berada pada bagian tepi bak dimana permukaan pada bagian tersebut lebih rendah sehingga pada saat pembuangan air akan pengalir pada bagian tersebut, dan untuk mempermudah dalam pembersihan bak dilapisi cat minyak agar permukaannya lebih licin.

Pada bak pendederan yang ada pada BBPBAP jepara ukurannya mungkin lebih kecil dari bak yang digunakan yang berada pada pendederan bak yang ada pada tinjauan pustaka, selain itu jumlah tebar pada bak pendederan jepara yaitu 1000 ekor pada bak pada tinjauan pustaka lebih dari 1000 ekor, bak yang digunakan pada pendederan di jepara yaitu bak beton dimana kualitasnya lebih unggul dari bak fiberglass, bak beton lebih tahan lama namun bak beton bersifat permanen jadi tidak dapat di pindahkan sedangkan bak fiberglass dapat dipindahkan.selain itu pendederan yang dilakukan diruangan indoor akan lebih baik suhu pada bak pendederan akan lebih terjaga karna kerapu bebek sangat rentang stres akibat pengaruh suhu,  keuntungan bak semen adalah mudah dalam pembuatan, bahannya tersedia disemua tempat, dan tahan lama. Harga bak semen dapat ditekan karena dalam pembuatannya cukup dengan pasangan bata yang diperkuat dengan beberapa  kolom beton, terutama bagian dasar bak. Untuk menghindari adanya penumpukan kotoran pada pori-pori atau sudut-sudut, maka permukaan bak harus dibuat sehalus mungkin dan sudut mati harus dihilangkan. Penghilangan  sudut mati dengan cara membuat sudut dalam bak melengkung, tidak siku. Adanya sudut mati disamping  menyebabkan penumpukan kotoran di suatu tempat juga menyebabkan sirkulasi air tidak sempurna.

Gambar 5. Persiapan wadah pendederan

4.3.2. Penebaran benih

Penebaran benih dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00-10.00 untuk menghindari stress karena kondisi lingkungan terutama suhu. Benih yang ditebar pada pendederan di BBPBAP jepara berukuran 2 – 3 cm ,Lokasi antara bak pemeliharaan larva dengan bak pendederan yang relatif dekat selain itu air yang digunakan pada bak larva dan bak pendederan berasal dari tandon yang sama sehingga kualitas air yang digunakan sama sehingga pada saat pengangkutan benih menggunakan ember atau baskom plastik kapasitas 5 liter. Penebaran dilakukan tanpa aklimatisasi karena kondisi bak pemeliharaan larva dengan bak pendederan relatif sama. Padat penebaran benih pada pendederan kerapu bebek di BBPBAP jepara pada bak beton 1000 ekor / bak.

Pada pendederan sebaiknya harus lebih memperhatikan lokasi agar mempermudah dalam pengangkutan larva ke sarana pendederan dan air yang digunakan pada bak larva dan bak pendederan mempunyai parameter air sehingga pada waktu pemindahan kita dapat menimalisir stres yang akan berakibat kematian dari ikan tersebut.

4.3.3. Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan pada pandederan pakan buatan (pellet) dimana pakan tersebut harus mempunyai kadar protein yang tinggi agar prosese pertumbuhan dapat berlangsung optimal , pakan pellet yang di berikan pada pendederan yaitu merk “ KRA” dengan ukuran 1,3 dan 1,6  produk Comfeed yang di produksi di siduarjo, pakan 1,3 dierikan pada ikan kerapu dengan ukuran 2 – 3 cm  sedangkan 1,6 di berikan pada ikan kerapu dengan ukuran 4 – 6 cm , pakan di berikan sistem adlibitum yaitu dimana memberi makan secara sedikit – sedikit sampai ikan tersebut kanyang , pakan yang diberikan diusahakan tidak ada yang mengendap pada dasar bak karna pakan yang mengendap tidak akan dimakan,karena bentuk mulut ikan kerapu bebek dimana pada bibir bawah lebih menonjol sehingga dia tidak bisa memakan pakan yang berada pada dasar bak, pakan diberikan pada pagi hari dan sore hari , pada pagi hari di berikan pada jam 06 : 00 sampai jam 09 : 00 sedangkan pada sore hari dari jam 14 :00 sampai 16:00 , pakan pelet yang diberikan juga di inrich dengan DHA selco dan scoutmolusion, dimana dosis yang diberikan yaitu 1 % per kilogramnya.

Pakan merupakan  faktor yang memegang peranan penting untuk menunjang keberhasilan kegiatan pendederan. Pakan yang digunakan hendaknya mempunyai kandungan nutrisi sesuai untuk benih serta dalam kondisi baik. Kebutuhan nutrisi untuk benih kerapu harus memliki kadar protein yang tinggi karena tergolong hewan karnivora.  Jenis pakan yang umum digunakan  dalam kegiatan pendederan antara lain : pakan buatan.

4.3.4. Pemberian Multivitamin dan Obat-obatan

Jenis multivitamin yang diberikan pada pkan adalah biovit Aquatic sebnyak 5 gr/kg pakan. Selain itu diberikan juga vitamin C (Asam Askobat) dengan jumlah dosis yang sama yaitu 5 gr/kg pakan. Pencampuran dilakukan  dengancara dicampurkan pada pelet dengan cara melarutkan vitamn dan multivitamin kedalam sedikit air tawar kemudian dicampurkan kedalam pelet dan diadukan hingga rata setelah itu pakan siap diberikan pada ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis).

4.3.5. Pengelolaan Kualitas Air

Pendederan benih menggunakan 12 bak dengan kapasitas 2-3 ton. Pada bak pendederan diterapkan sistem air mengalir selama 24 jam sehingga terjadi pergantian air sebanyak 100-200% per hari pengecekan air yang mengalir pada bak dilakukan seminggu sekali dengan cara yaitu menggunakan ember dimana sebelumnya ember tersebut telah diberi tanda 1 liter cara pengukurannya yaitu air yang manangalir pada bak harus mancapai titk 1 liter dalam waktu 60 detik, tujuannya mangatur laju air pada bak untuk penghematan, selain itu dilakukan Pembersihan dasar bak dengan cara disipon yang dilakukan 2 kali sehari setelah pemberian pakan yaitu pukul 09.30 dan 16.30 untuk bak berkapasitas 1m3, penyiponan di lakukan dengan menggunakan pipa paralon dengan ukuran 0,5 inci yang di sambungkan dengan selang dengan panjang 2 meter, air ditarik menggunakan teknik gravitasi, Setelah penyiponan  dilakukan penggantian air yaitu dengan cara mancabut pipa outlet yang berada pada tepi bak hingga ketinggian air diturunkan 70-80% atau 15-25 cm dari dasar bak, kemudian air ditambah kembali, pada pendederan kerapu bebek di jepara data kualitas air yaitu suhu 28,8 0C, DO 3,95 mg/L, salinitas 30 ppt, alkalinitas 80 mg/L,data didapat dari petugas yang melakukan pengukuran kualitas air pada BBPBAP japara, pengukuran dilakukan setiap 2 minggu yang dilakukan oleh petugas.

3.4.6.Tingkat Kelangsungan Hidup (survival Rate)

Penghitungan tingkat kelangsungan hidup dengan menggunakan rumus :

SR = Nt x 100%

No

SR = 953 X 100% = 95,3 %

1000

Keterangan :

  • SR = Kelangsungan hidup (%)
  • Nt  = Jumlah ikan pada akhir pemeliharaan (ekor)
  • No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)

Berdasarkan pengamatan di lapangan tingkat kelangsungan hidup (SR) cukup baik yaitu 95,3 %, hal ini disebabkan kualitas air cukup baik pakan yang cukup sehingga tidak terjadi kanibalisme selain itu kebersihan dari bak tetap di jaga dengan cara melakuka penyiponan setiap pagi dan sore dan ini membuat kelangsungan ikan bebek (Cromileptes altivelis) sangat baik, Data bisa dipastikan dengan melihat jumlah hasil panen dari 1000 ekor yang di tebar dapat di panen ikan 953 ekor dan 22 ekor cacat , jadi dapat kita lihat jumlah kematian pada ikan sangat sedikit yaitu 25 ekor.

4.3.7. Pengendalian Hama dan Penyakit

Penyakit pada larva kerapu bebek dapat disebabkan oleh faktor infeksi dan non infeksi. Pada umumnya, penyakit yang sering terjadi di BBPBAP Jepara disebabkan oleh faktor non infeksi, yaitu lingkungan. Faktor lingkungan ini erat kaitannya dengan masalah kualitas air, antara lain suhu, oksigen terlarut, salinitas, bahan organik dan ammonia .    Salah satu penyakit yang di temukan yaitu Monogenia merupakan parasit sejenis kutu dari golongan crustusea ukuranya dapat mencapai 2-3 mm (Akbar dan Sudaryanto, 2001) yang menyerang sirip dan kulit. Ciri-ciri ikan yang terserang Monogenia antara lain, nafsu makan menurun dan gerak renang lambat. Pengobatan terhadap ikan yang telah terinfeksi dengan cara melakukan perendaman H2O2 dengan dosis 70-150 ppm selama 30 menit

Perubahan kualitas air tersebut secara fluktuatif dapat menimbulkan kematian. Gejala yang sering timbul karena faktor lingkungan, yaitu larva sering berada di permukaan air, bergerombol, menempel satu sama lain, lalu larva mati dengan insang pucat, produksi lender yang banyak, mulut dan operkulum terbuka. Untuk mengatasinya dilakukan dengan cara mempertahan kondisi air pada level yang ideal. Sedangkan penyakit yang disebabkan karena infeksi dapat dicegah dengan cara pemberian metilene blue yang di campur dengan aclivrafin yang dosis ukurannya 5gr / 1000 L  setelah penyiponan dan penggantian air, apabila  kondisi benih menurun, ditandai dengan nafsu makan berkurang.

4.3.8. Benih Sortir dan Grading

Sortir dan grading dilakukan untuk memisahkan benih-benih yang tumbuh abnormal (tutup insang tidak sempurna, pertumbuhan lambat, dan lain-lain) dan untuk mengelompokkan benih berdasarkan panjang total benih. Biasanya benih dikelompokkan menjadi 2-3 kelompok ukuran yaitu ukuran 5 cm , 6 cm dan 7 cm . Benih dikelompokkan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu selanjutnya dihitung dan dipindahkan ke dalam bak pendederan lain yang telah disiapkan. Sortir dan grading dilakukan sebelum pemberian pakan pada pagi hari, dengan menggunakan alat bantu berupa tudung saji dan saringan yang pada sisinya diberi potongan sterofom agar mengapung .pada sortir yang saya lakukan pada pendederan di BBPBAP jepara yaitu ukuran 5 cm = 171 ekor, ukuran 6 cm = 671 ekor, dan ukuran 7 cm = 111 , selain itu jaga didapat ikan yang cacat ( kopek, tulang bengkok, gepeng) berjumlah 23 ekor.

Gambar 9. Kegiatan Sortir dan Grading

4.3.9. Pemanenan

Pemanenan benih dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00-09.00 setelah terlebih dahulu benih dipuasakan selama 12-24 jam tergantung dari lama pengangkutan dan kerapu bebek cenderung lebih lama proses metabolismenya di banding dengan kerapu macan.

Panen diawali dengan menurunkan ketinggian air hingga 15-20 cm dari dasar bak. Pemanenan dilakukan dengan sistem terbuka dengan cara benih digiring dan ditangkap menggunakan tudung saji yang kemudian dimasukkan kedalam tudung saji lain yang telah disiapkan. Setelah itu benih dihitung sesuai dengan permintaan dan dimasukkan ke dalam drum. volume air dalam drum ini adalah 300 l dan banyaknya benih dalam 1 rombong adalah 200-300 ekor, tergantung kepadatan pengepakan. Sedangkan untuk sistem aerasi (O2) menggunakan blower yang dihubungkan ke mesin mobil pengangkut benih dan juga membawa tabung oksigen murni jika mobil dalam keadaan mati dan untuk menjaga kestabilan suhu dimasukan es yang terlebih dahulu es tersebut dibungkus dengan plastik agar es tidak cepat mencair.

Jumlah panen ukuran 5 cm = 171, 6 cm = 671, 7 cm = 111 dengan jumlah hasil semua 953, cacat 23 ( kopek,tulang bengkok, gepeng)

Ikan kerapu yang di panen di BBPBAP jepara dibawa kedaerah lampung yang dijual dengan harga 1500 per/ cm , ikan biasanya dibeli orang yang memiliki keramba jaring apung di lampung yang selanjutnya akan dilakukan pembesaran.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1. Kesimpulan

1. Tahapan kegitan pada pendederan ikan kerapu bebek meliputi : persiapan bak pendederan, sarana dan prasarana, teknik penebaran benih, taknik pemberian pakan, pemberian multivitamin, pengolahan kualitas air, teknik greeding, pengendalian hama dan penyakit, teknik pemanenan.

2. Pemasalahan yang dihadapi yaitu kekurangan dari sarana pendederan separti bak pada pendederan dengan jumlah 12 bak tidak mencukupi untuk menampung jumlah benih pada pasca pendederan, selain itu sarana untuk mengukur parameter air sehingga parameter air di ukur setiap 2 minggu sekali oleh petugas , jadi pada saat praktek yang saya lakukan tidak pernah mengukur parameter air tersebut. Sedangkan hama dan penyakit petugas disana tidak menanggapi dengan serius penyakit parasit yang ditemukan, dimana parasit dianggap sebagai hama yang tidak mengganggu,dan tidak ada penanganan dan penelitian lebih lanjut bagi parasit  yang didapat pada ikan tersebut.

5.2. Saran

Melengkapai sarana yang ada seperti alat – alat pengukur kualitas air.

Perawatan sarana dan prasarana perlu dilakukan secara rutin yang digunakan pada pendederan ikan kerapu bebek.

Menambah pekerja ahli dalam pendederan ikan kerapu bebek agar perawatan ikan dapat maxsimal.

Untuk dapat menambah pengetahuan dan keterampilan pendederan ikan kerapu bebek, dan perlu diadakan pelatihan mengenai teknologi pendederan yang berkembang pada saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S. dan Sudaryanto, 2002. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kerapu Bebek. Penebar Swadaya , Jakarta.

Aslianti, T., Wardoyo, J.H. Hutapea, S. Ismi, K.M. Setiawati. 1998. Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek (Cromileptes altivalis) dalam Wadah Berbeda Warna. Jurnal Penelitian Perikanan Pantai, Vol. IV, No. 3: 25-30.

Suwirya, K. dkk., 1999.  Penggunaan Pakan Buatan dalam Pemeliharaan Yuana Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis), Hasil Pembenihan.  Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5 No. 1, hal : 169 – 172.

Sutrisno, E., Hardata dan Sugiyanto.  2003.  Penerapan Teknologi Produksi Telur dan Benih Kerapu Tikus, Cromileptes altivelis.  Laporan Tahunan Balai Budidaya Laut Lampung.

Kurniastuty, Tusihadi, T. dan Hartono, P,  2004. Hama dan Penyakit Ikan Kerapu, dalam Pedoman  Budidaya Ikan Kerapu, Balai Budidaya Laut, Lampung.

Tampubolon , dkk . 1989 . Metode Makan Ikan Kerapu Bebek, Pedoman Pemberian Makan, Balai Budidaya Laut, Lampung.

Anonymous, 1991. Operasional Pembesaran Ikan Kerapu Macan dalam Keramba jaring Apung. Balai Penelitian Perikananan Budidaya Pantai Maros Buletbangun. Deptan. Jakarta.

Sutarmat. T,suko Ismi. A. Hafani dan Kawarahar (2007). Petunjuk Teknis Budidaya Kerapu bebek (Chiromileptes altivelis) Balai Besar Riser Perikanan Budidaya Laut Gondol bekerja sama dengan Jepang Internasional Cooperation Agancy.

Departemen pertanian, 1999,  Pemeliharan kerapu bebek,  Direktorat jenderal perikanan

Tabel 1. Jenis Dan Sumber Data

No Jenis Data Sumber
1

2

3

4

5

6

Persyaratan Lokasi

-          Keadaan lokasi

-          Letak wilayah

Sarana Pendederan

-          Bak pendederan

-          Bak pemeliharan larva

Pengelolaan kualitas air

-          Pengukuran pH

-          Pengukuran salinitas

-          Pengukuran oksigen

-          Pengukuran suhu

Penetasan telur

-          Pengontrolan kualatas air

-          Pemanenan larva

Pemeliharan larva

-          Pengontrolan kualitas air

-          Pemberian pakan

-          Penyiponan

Pemanenan

-          Waktu dan ukuran

-          Cara panen

Pengangkutan dan Pengepakan

-          Cara Pengangkutan

-          Media Pengangkutan

Pengamatan langsung dan meminta data setempat

Pengamatan langsung, wawancara dan studi literatur

Pengamatan langsung, wawancara dan studi literatur

Pengamatan langsung, wawancara dan studi literatur

Pengamatan langsung, wawancara    dan studi literatur

Pengamatan langsung, wawancara    dan studi literatur

Pengamatan langsung, wawancara dan studi literatur

About these ads